Kunci Penyelamatan Dieng Mutlak Kesadaran Masyarakat

Kunci Penyelamatan Dieng Mutlak Kesadaran Masyarakat

e-wonosobo – Ancaman Bencana masih terus menghantui Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Pasalnya hampir semua gunung dan perbukitan di kawasan itu gundul. Kondisi ini terus memicu terjadinya bencana longsor dan banjir. Untuk pemulihan kawasan Dieng diperlukan kerjasama antara Pemerintah dan Kesadaran Tinggi dari Masyarakat sekitar.
Direktur Jenderal Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial Kementrian Kehutanan, Dr. Harry Santoso mengatakan apabila kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam penyelamatan lingkungan Dieng tidak segera tumbuh. Maka bencana tinggal tunggu waktu.
“ Kalau tetap dibiarkan Dieng seperti saat ini, maka bencana ibarat growth waktu. Seperti beberapa waktu lalu. Kawasan Pegunungan terjadi banjir bandang akibat semua pegunungan gundul,”kata dalam Lokakarya Pemulihan Dieng berbasis masyarakat kemarin (23/12) di Lodge Krisna Wonosobo.
Dihadapan Perwakilan enam Kabupaten meliputi Wonosobo,Kendal, Batang, Temanggung, Banjarnegera dan Pekalongan tersebut, Harry menjelaskan secara umum bencana di Dieng dipicu oleh iklim, pola penataan lingkungan serta Topografi didominasi lereng berbukit. Tiga unsur ini mutlak ada, untuk kondisi musim memang penduduk sekitar tidak bisa intervensi. Namun untuk pola cocok tanam serta mensiasati Topografi lereng bertebing masih bisa dilakukan untuk menghindari bencana lebih besar.
“ Iklim Dieng curah hujan tinggi, sangat potensial memicu banjir dan longsor karena pola pertanian yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan,”katanya.
Harry menyampaikan, bahwa selama ini Para petani yang bermukim di kawasan Dieng melakukan pola pertanian yang mengejar produksi tinggi jenis kentang. Pada penataan lahanya tidak mengikuti garis sabuk gunung. Sebaliknya justru melawan garis sabuk gunung hal ini menyebabkan tiap hari longsor terjadi.
“ Memang sangat sulit, kalau pola penataan lokasi tanam mengikuti sabuk gunung. Bisa memimimalisir longsor karena bisa menjadi penahan aliran air. Alasan petani enggan karena dengan pola ini tanaman kentang cepat membusuk,”katanya.
Untuk itu, kata dia, alternatif terakhir dalam penyelamatan Dieng semua berpulang pada penduduk yang bermukim dan bercocok tanam di kawasan itu. Pilihanya apakah akan terus dihantui bencana, atau memulihkan lingkungan dengan cara mencari alternatif sektor ekonomi lain.
“ Risiko pola pertanian kentang dengan type yang dilakukan di Dieng ini juga akan menurunkan kesuburan tanah. Karena unsur hara tiap hari terbawa longsor, artinya tiap tahun hasil panen kentang akan terus menurun,”katanya.
Sementara itu Kepala BP DAS Serayu-Opak – Progo, Ayu Dewi Utari mengatakan untuk program pemulihan Dieng utamanya untuk perawatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu dan Tulis pada tahun 2011 ini khususnya untuk Kabupaten Wonosobo sudah mengelontorkan dana mencapai Rp five miliar. Beberapa program yang dilakukan meliputi program Kebun Bibit Rakyat (KBR), Bantuan Sosial (Bansos) Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) serta Dana Alokasi Khusus (DAK). Program ini bahkan sudah terus dilakukan sejak beberapa tahun lalu.
“ Pendekatan yang kita lakukan dalam tiap program berbasis masyarakat. Namun hingga saat ini belum menunjukan hasil yang baik, kuncinya kesadaran amsyarakat secara penuh bagaimana mengembalikan kerusakan lingkungan yang mereka huni,”pungkasnya. (rase)

Posted via E-Wonosobo on 2011-12-24 03:29:51

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *